Metamorphosys

Bahasa “Gaul” di Akun Pemerintah: Strategi Komunikasi atau Hanya Ikut Tren?

Beberapa tahun lalu, akun media sosial instansi pemerintah identik dengan bahasa yang formal, kaku, dan cenderung birokratis. Kalimat seperti “Diberitahukan kepada seluruh masyarakat…” atau “Sehubungan dengan…” menjadi pemandangan yang lumrah dalam setiap unggahan.

Namun, situasinya kini mulai berubah. Tidak sedikit akun pemerintah yang menggunakan bahasa yang lebih santai, akrab, bahkan mengikuti istilah populer yang sedang ramai di media sosial. Kita mungkin pernah menemukan unggahan seperti:

“Bestie, jangan lupa bayar pajak ya.”

“Guys, SIM kamu sudah mau habis nih.”

“Sobat, cuaca hari ini lagi ekstrem, tetap jaga kesehatan ya!”

Perubahan ini memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggap pendekatan tersebut membuat informasi lebih mudah diterima. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan apakah gaya komunikasi seperti itu masih sesuai dengan identitas sebuah lembaga formal.

Lalu, apakah penggunaan bahasa gaul oleh instansi pemerintah merupakan strategi komunikasi yang tepat, atau hanya sekadar mengikuti tren media sosial?

 

Ketika Cara Masyarakat Mengkonsumsi Informasi Berubah

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa perubahan gaya komunikasi pemerintah tidak terjadi tanpa alasan.

Cara masyarakat mengkonsumsi informasi saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi utama bagi banyak orang. Informasi dikonsumsi dengan cepat, sering kali hanya dalam hitungan detik sebelum pengguna kembali melakukan scroll ke konten berikutnya.

Di saat yang sama, akun pemerintah tidak lagi bersaing hanya dengan sesama instansi. Dalam satu lini masa, mereka harus bersaing mendapatkan perhatian dengan media online, influencer, kreator konten, hingga brand-brand besar yang sudah sangat memahami cara berkomunikasi di media sosial.

Akibatnya, banyak instansi mulai mencari pendekatan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat agar pesan yang disampaikan tidak terlewat begitu saja.

 

Mengapa Banyak Instansi Mulai Menggunakan Bahasa yang Lebih Santai?

Ada beberapa alasan yang membuat pendekatan ini semakin populer.

Informasi Menjadi Lebih Mudah Dipahami

Salah satu tantangan terbesar komunikasi publik adalah menyederhanakan informasi yang sering kali kompleks. Bahasa birokrasi yang terlalu formal terkadang sulit dipahami oleh masyarakat umum.

Dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian, pesan dapat diterima lebih cepat tanpa mengurangi substansi informasinya.

Meningkatkan Engagement

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa konten dengan bahasa yang lebih ringan cenderung mendapatkan interaksi lebih tinggi.

Audiens lebih terdorong untuk memberikan komentar, memberikan informasi, atau bahkan menyimpan unggahan ketika merasa bahasa yang digunakan terasa dekat dengan mereka.

Mendekatkan Institusi dengan Masyarakat

Selama bertahun-tahun, banyak masyarakat memandang instansi pemerintah sebagai lembaga yang kaku dan sulit didekati.

Melalui gaya komunikasi yang lebih santai, beberapa instansi berusaha mengurangi jarak tersebut dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Menjangkau Generasi Muda

Generasi muda memiliki pola komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Bahasa yang ringan dan lebih conversational sering kali terasa lebih relevan bagi mereka dibandingkan bahasa formal yang terlalu panjang dan berbelit.

 

Manfaat yang Bisa Diperoleh

Jika digunakan secara tepat, pendekatan komunikasi yang lebih santai memang dapat memberikan berbagai manfaat.

Informasi menjadi lebih mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Tingkat interaksi meningkat. Pesan publik yang sebelumnya sering diabaikan menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Dalam beberapa kasus, pendekatan ini juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap layanan publik, program pemerintah, hingga kampanye sosial yang sedang dijalankan.

Dengan kata lain, komunikasi yang lebih santai bukan selalu berarti kurang profesional. Dalam konteks tertentu, justru bisa menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan pesan yang penting.

 

Namun, Apakah Semua Informasi Cocok Disampaikan Secara Gaul?

Di sinilah tantangan sebenarnya muncul.

Tidak semua jenis informasi memiliki konteks yang sama. Ada pesan-pesan tertentu yang memang masih cocok disampaikan dengan pendekatan santai. Misalnya informasi mengenai perpanjangan SIM, pembayaran pajak, jadwal layanan publik, atau pengumuman kegiatan masyarakat.

Namun, ada juga informasi yang membutuhkan tingkat keseriusan lebih tinggi.

Misalnya ketika membahas:

  • Bencana alam
  • Informasi kedaruratan
  • Kebijakan publik
  • Isu kesehatan masyarakat
  • Pengumuman terkait korban atau musibah

Dalam situasi seperti ini, penggunaan bahasa yang terlalu santai atau bercanda berisiko menimbulkan kesan tidak empatik dan mengurangi kredibilitas institusi.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar memilih antara bahasa formal atau bahasa gaul, melainkan memahami konteks komunikasi yang sedang dihadapi.

 

Risiko Ketika Terlalu Mengejar Tren

Fenomena penggunaan bahasa gaul juga memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.

Kehilangan Wibawa Institusi

Publik tetap melihat akun media sosial sebagai representasi resmi sebuah lembaga.

Ketika penggunaan bahasa terasa terlalu santai atau berlebihan, sebagian masyarakat dapat menganggap institusi tersebut kehilangan kesan profesional dan wibawa yang seharusnya dimiliki.

Terlihat Memaksakan Diri

Tidak semua istilah yang sedang tren cocok digunakan oleh institusi formal.

Ketika sebuah akun terlalu berusaha terlihat gaul dengan menggunakan istilah yang tidak sesuai konteks, hasilnya justru bisa terasa canggung dan tidak natural.

Alih-alih mendekatkan diri dengan audiens, konten tersebut malah berpotensi menjadi bahan candaan.

Tren Bersifat Sementara

Bahasa internet berkembang sangat cepat.

Istilah yang populer hari ini bisa saja terasa usang dalam hitungan bulan. Jika sebuah institusi terlalu bergantung pada tren sesaat, identitas komunikasinya menjadi sulit konsisten dalam jangka panjang.

Pesan Utama Menjadi Kabur

Tujuan utama komunikasi publik adalah menyampaikan informasi.

Jika audiens lebih fokus pada gaya bahasa dibandingkan isi pesannya, maka fungsi utama komunikasi tersebut bisa jadi tidak tercapai.

 

Formal Tidak Selalu Berarti Kaku

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa sebuah institusi hanya memiliki dua pilihan: formal atau gaul.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Komunikasi yang efektif tidak harus menggunakan bahasa birokrasi yang rumit. Sebaliknya, komunikasi yang mudah dipahami juga tidak harus menggunakan istilah gaul yang sedang tren.

Ada ruang tengah yang seringkali justru menjadi pilihan terbaik.

Bahasa yang sederhana, jelas, mudah dipahami, dan tetap profesional sering kali mampu menyampaikan pesan dengan jauh lebih efektif dibandingkan dua ekstrem tersebut.

Misalnya:

Terlalu formal:

“Diberitahukan kepada masyarakat bahwa masa berlaku SIM akan segera berakhir.”

Terlalu santai:

“Bestie, SIM kamu mau expired nih.”

Alternatif yang lebih seimbang:

“Jangan lupa memperpanjang SIM sebelum masa berlakunya habis agar aktivitas berkendara tetap nyaman dan aman.”

Pesannya tetap mudah dipahami tanpa kehilangan profesionalitas.

 

Yang Lebih Penting dari Bahasa Gaul: Tone of Voice

Pada akhirnya, isu ini sebenarnya bukan semata-mata tentang penggunaan bahasa gaul.

Yang jauh lebih penting adalah apakah sebuah organisasi memiliki Tone of Voice yang jelas dan konsisten.

Tone of Voice adalah karakter atau kepribadian komunikasi yang dimiliki sebuah organisasi. Cara sebuah institusi berbicara seharusnya mencerminkan fungsi, tujuan, dan audiens yang mereka layani.

Sebagai contoh:

Instansi kebencanaan mungkin perlu terdengar cepat, tegas, dan informatif.

Instansi pendidikan bisa menggunakan pendekatan yang lebih ramah dan edukatif.

Instansi pariwisata mungkin lebih hangat, inspiratif, dan mengundang.

Artinya, tidak semua akun harus terdengar sama. Tidak semua juga harus terdengar gaul.

Yang terpenting adalah menemukan gaya komunikasi yang paling sesuai dengan identitas institusi dan kebutuhan audiensnya.

 

Pelajaran yang Bisa Dipetik oleh Brand

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya relevan bagi instansi pemerintah. Brand juga menghadapi tantangan yang sama.

Banyak brand tergoda mengikuti tren bahasa di media sosial karena ingin terlihat relevan dan dekat dengan audiens. Namun, mengikuti tren tanpa memahami karakter brand seringkali menghasilkan komunikasi yang tidak konsisten.

Audiens modern memang menginginkan komunikasi yang lebih manusiawi dan mudah dipahami. Namun mereka juga tetap mengharapkan konsistensi, kejelasan, dan keaslian dari sebuah brand.

Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah sebuah brand harus terdengar formal atau santai.

Pertanyaannya adalah:

“Bagaimana cara brand berbicara agar sesuai dengan identitasnya dan tetap relevan bagi audiensnya?”

 

Dari Instansi Pemerintah hingga Brand, Semua Membutuhkan Suara yang Tepat

Fenomena penggunaan bahasa gaul oleh akun pemerintah menunjukkan bahwa cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan pesan itu sendiri.

Di era digital saat ini, audiens tidak hanya memperhatikan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara sebuah organisasi berkomunikasi. Karena itulah, setiap brand maupun institusi perlu memiliki Tone of Voice yang jelas agar pesan yang disampaikan terasa relevan, mudah dipahami, dan tetap sesuai dengan identitas yang ingin dibangun.

Tidak semua brand harus terdengar santai. Tidak semua juga harus terdengar formal. Yang terpenting adalah menemukan gaya komunikasi yang paling sesuai dengan karakter brand, tujuan bisnis, dan audiens yang ingin dijangkau.

Sebuah brand premium tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan brand yang menyasar Gen Z. Begitu pula brand B2B akan memiliki gaya komunikasi yang berbeda dibandingkan brand lifestyle atau F&B.

Ketika Tone of Voice dirancang dengan tepat, komunikasi menjadi lebih efektif, lebih mudah dikenali, dan mampu membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens.

 

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah akun pemerintah harus berbicara secara formal atau gaul.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah gaya komunikasi tersebut mampu membantu masyarakat memahami informasi dengan lebih baik tanpa mengurangi kredibilitas dan kepercayaan terhadap institusi yang menyampaikannya.

Karena tujuan komunikasi bukan sekadar terlihat kekinian atau mengikuti tren, melainkan memastikan pesan dapat diterima, dipahami, dan memberikan dampak yang diharapkan.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia branding dan digital marketing. Brand yang berhasil bukan selalu brand yang paling ramai atau paling viral, melainkan brand yang mampu berbicara dengan cara yang tepat kepada audiens yang tepat.

Di Metamorphosys Creative & Digital Agency, kami membantu brand menemukan dan mengembangkan Tone of Voice yang sesuai dengan karakter brand, target audiens, serta tujuan komunikasi yang ingin dicapai. Mulai dari penyusunan strategi komunikasi, perencanaan konten, hingga pengembangan identitas digital, kami percaya bahwa setiap brand memiliki suara unik yang perlu dibangun secara konsisten.

Jika brand Anda ingin membangun komunikasi yang lebih kuat, relevan, dan mampu terhubung dengan audiens secara lebih efektif, Metamorphosys siap menjadi partner strategis untuk membantu mewujudkannya. Karena komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang bagaimana sebuah brand dapat didengar, dipahami, dipercaya, dan diingat.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =