Cuma Gara-Gara Lumba-Lumba, Brand Ini Bangkit Lagi
Dalam industri musik, memiliki lagu yang populer belum tentu berarti memiliki brand yang kuat. Seorang penyanyi dapat menghasilkan lagu yang didengar jutaan orang, masuk ke berbagai tangga lagu, bahkan menjadi soundtrack kehidupan banyak orang, tetapi tetap kesulitan membuat audiens mengingat siapa orang di balik lagu tersebut. Fenomena inilah yang menarik untuk dilihat melalui perjalanan karier Zara Larsson.
Zara Larsson bukanlah nama baru dalam industri musik. Ia telah berada di industri sejak usia muda dan memperoleh popularitas internasional melalui lagu seperti Lush Life, Never Forget You, Ain’t My Fault, dan kolaborasinya bersama Clean Bandit dalam Symphony. Lagu-lagu tersebut memiliki pengenalan yang sangat kuat, tetapi selama beberapa tahun, identitas Zara Larsson sebagai seorang brand tidak selalu memiliki tingkat pengenalan yang sama kuatnya dengan lagu-lagunya. Bahkan, salah satu permasalahan yang muncul dalam pembahasan karirnya adalah bagaimana orang mengenal lagunya terlebih dahulu, tetapi tidak selalu menghubungkan lagu tersebut dengan identitas Zara sebagai artis.
Hal tersebut membuat perubahan citra Zara pada era Midnight Sun menjadi menarik untuk dianalisis. Rebranding yang terjadi bukan hanya perubahan warna, pakaian, atau gaya fotografi. Perubahan tersebut merupakan proses membangun kembali perception terhadap Zara Larsson: dari seorang penyanyi pop yang dikenal melalui hit radio menjadi sosok pop star dengan dunia visual, personality, dan cultural identity yang jauh lebih mudah dikenali.
Dari “Penyanyi dengan Lagu Hit” Menjadi “Sebuah Dunia”
Salah satu pernyataan Zara Larsson yang paling relevan dalam memahami perubahan ini adalah bahwa sebelumnya ia merasa belum pernah benar-benar menciptakan sebuah “world and vibe” karena keterlibatannya dalam proses kreatif belum sebesar sekarang. Pada era Midnight Sun, ia justru mulai membangun sebuah dunia yang menyatukan musik, fashion, visual, humor, dan karakter personalnya.
Sebuah brand tidak hanya terdiri dari logo atau visual identity. Brand merupakan kumpulan persepsi yang terbentuk di dalam pikiran audiens. Dalam konteks seorang figur publik, produk yang dijual bukan hanya musik. Yang dijual adalah keseluruhan pengalaman: personalitas, lifestyle, fashion, visual, attitude, values, hingga hubungan emosional dengan penggemarnya.
Jika citra lama Zara dapat dipersepsikan sebagai polished, glamorous, mainstream pop singer, maka citra barunya bergerak ke arah yang lebih playful, colorful, nostalgic, chaotic, feminine, humorous, dan internet-aware.
Perubahan tersebut terlihat jelas pada era Midnight Sun. Visualnya menggunakan warna-warna vivid, elemen tropis, glitter, rhinestones, fashion yang terinspirasi era 2000-an, serta nuansa fantasy dan summer vacation. Zara sendiri menggambarkan arah visual tersebut sebagai perpaduan antara Scandinavian core dan tropical fantasy, dengan tujuan membuatnya terasa fun, colorful, dan effortless.
Dengan kata lain, rebranding tersebut memberikan Zara sesuatu yang sebelumnya lebih sulit ditemukan: visual signature.
Sebelum: Penyanyi Lush Life
Jika melihat citra Zara Larsson pada era-era awal karier internasional-nya, identitasnya banyak ditempatkan dalam kategori pop mainstream. Musiknya sangat radio-friendly dan visualnya cenderung mengikuti bahasa visual pop pada masanya.
Era So Good, misalnya, berhasil menghasilkan beberapa lagu besar dan memperluas popularitas Zara secara internasional. Lush Life bahkan berhasil masuk lima besar di 18 negara dan menjadi salah satu lagu terlaris di Inggris pada 2010-an.
Namun, keberhasilan sebuah produk tidak selalu menghasilkan keberhasilan sebuah brand.
Dalam perspektif marketing, hal tersebut dapat dikaitkan dengan konsep brand awareness. Brand awareness bukan hanya mengenai apakah konsumen pernah melihat atau mendengar sebuah brand, tetapi juga seberapa mudah mereka mengenali dan mengingatnya dalam situasi tertentu.
Zara memiliki high awareness sebagai sebuah suara di dalam lagu-lagu pop, tetapi personal brand-nya belum tentu memiliki asosiasi distingtif yang sama kuat.
Masalah ini cukup penting dalam industri hiburan karena seorang artis bersaing bukan hanya dengan penyanyi lain, tetapi dengan jutaan konten yang muncul setiap hari. Ketika identitas visual tidak cukup distingtif, seorang artis dapat dengan mudah tenggelam di dalam cultural noise.
Setelah: The “Midnight Sun” Girl
Rebranding Zara Larsson kemudian mengambil arah yang sangat berbeda.
Era Midnight Sun dibangun sebagai sebuah pengalaman, bukan hanya album. Visualnya menggunakan warna cerah, tropical fantasy, nostalgia Y2K, glitter, rhinestones, fashion yang playful, serta humor yang terasa sangat dekat dengan internet culture.
The FADER (2025) menggambarkan era tersebut sebagai sebuah creative breakthrough dalam visual, marketing, dan artistry Zara, sementara Zara sendiri menjelaskan bahwa ia ingin menciptakan sebuah dunia dan vibe yang sebelumnya belum pernah benar-benar ia bangun.
Album Midnight Sun sendiri dirilis pada September 2025 dan menggabungkan pop, dance, serta berbagai pengaruh musik lain dengan tema yang lebih personal dan konfiden. Sony juga menggambarkan proyek tersebut sebagai sesuatu yang menampilkan berbagai sisi Zara yang mulai dari ambisius, playful, vulnerable, hingga flippant.
Secara branding, perubahan ini sangat penting.
Zara tidak lagi hanya memiliki lagu-lagu. Dia sekarang memiliki sebuah gaya yang unik dan identitas yang menarik perhatian. Dan yang paling penting, ia memiliki sesuatu yang dapat dikenali bahkan sebelum orang mendengar lagunya.
Memanfaatkan Trend Lumba-lumba
Salah satu bagian paling menarik dari rebranding Zara adalah hubungannya dengan internet culture.
Pada 2024, lagu Symphony yang dirilis bersama Clean Bandit pada 2017 kembali mendapatkan perhatian melalui sebuah tren di media sosial yang menggunakan imagery bergaya Lisa Frank, terutama gambar lumba-lumba, untuk membuat konten humor. Tren tersebut memberikan lagu lama Zara sebuah kehidupan baru di internet.

Source: Imgflip.com (2024)
Yang menarik adalah Zara tidak mencoba melawan fenomena tersebut.
Ia memanfaatkan momentum tersebut.
Dalam marketing, hal ini dapat dilihat melalui konsep trend hijacking atau cultural relevance—ketika sebuah brand memanfaatkan percakapan, tren, atau fenomena budaya yang sedang mendapatkan perhatian untuk membuat dirinya kembali relevan.
Namun, penting untuk memahami bahwa rebranding Zara bukan sekadar “mengikuti meme”. Justru di sinilah strategi branding menjadi lebih menarik.
Zara mengambil elemen yang sudah familiar bagi internet audience yaitu Y2K, absurd humor, bright colors, nostalgia, meme culture dan kemudian menggabungkannya dengan identitas personalnya sendiri.
Hasilnya bukan sekadar:
“Zara mengikuti trend.”
Tetapi:
“Trend tersebut sekarang terasa seperti bagian dari Zara.”
Perbedaan ini sangat penting.
Brand yang hanya mengikuti tren akan terlihat seperti mencoba menjadi relevan. Sebaliknya, brand yang berhasil mengintegrasikan tren ke dalam identitasnya dapat membuat tren tersebut menjadi bagian dari brand equity mereka.
Nostalgia sebagai Marketing Tool
Penggunaan estetika Y2K juga bukan kebetulan.
Nostalgia merupakan salah satu marketing strategy yang sangat kuat karena menghubungkan sesuatu yang baru dengan sesuatu yang sudah familiar. Ketika audiens melihat visual yang mengingatkan mereka pada era 2000-an yaitu dengan glitter, rhinestones, colorful graphics, low-rise fashion, tropical imagery, atau aesthetic ala Lisa Frank.
Inilah yang membuat nostalgia efektif dalam advertising. Visual tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memicu asosiasi emosional.
Era Midnight Sun menggunakan prinsip tersebut dengan sangat kuat. Beberapa media bahkan menggambarkan visualnya sebagai kebangkitan kembali summer aesthetic tahun 2000-an, dengan elemen seperti crop tops, sequins, rhinestones, keychains, dan warna-warna vibran.
Dengan menggunakan nostalgia, Zara dapat berbicara kepada dua kelompok sekaligus.
Audiens yang lebih tua dapat merasakan familiaritas terhadap estetika 2000-an dan audiens yang lebih muda mengenalnya melalui interpretasi baru dari estetika tersebut yang mereka temukan melalui TikTok, Instagram, tren fashion, dan kultur meme.
Attention Economy: Mengapa Image Sangat Penting?
Rebranding juga harus dipahami dalam konteks attention economy. Hari ini, audiens tidak kekurangan informasi. Mereka justru kelebihan informasi.
Setiap hari, seseorang melihat ribuan visual melalui TikTok, Instagram, YouTube, billboard, platform streaming, iklan, dan sosial media. Akibatnya, tantangan terbesar dalam advertising bukan lagi hanya “bagaimana menjelaskan produk?”, tetapi:
“Bagaimana membuat seseorang berhenti scrolling?”
Inilah alasan visual identity sangat penting.
Sebuah visual yang biasa saja dapat dilewati dalam hitungan detik. Tetapi visual yang memiliki karakter kuat dapat menciptakan curiosity.
Rebranding Zara menggunakan prinsip tersebut dengan sangat baik. Visual Midnight Sun terasa lebih exaggerated dan playful dibandingkan citra pop mainstream yang lebih polished. Ia memiliki cukup banyak elemen visual untuk menciptakan curiosity dan conversation.
Dalam konteks advertising, hal tersebut menciptakan attention hook.
Audiens mungkin awalnya berhenti karena meme lumba-lumba. Tapi semakin lama audiens penasaran, semakin banyak yang menarik mereka lebih dalam. Mulai dari meme tersebut hingga menemukan klip-klip Zara Larsson mempromosikan lagu barunya “Midnight Sun” di konser live.
Itulah bagaimana visual branding dapat menjadi entry point menuju product consumption.
Dari Brand Awareness ke Brand Association
Jika brand awareness menjawab pertanyaan:
“Apakah orang tahu brand ini?”
Maka brand association menjawab:
“Apa yang muncul di kepala mereka ketika memikirkan brand ini?”
Ini merupakan perbedaan penting dalam rebranding Zara.
Sebelum era Midnight Sun, seseorang mungkin menjawab:
“Zara Larsson? Oh, yang nyanyi Lush Life.”
Setelah era tersebut, asosiasinya berpotensi menjadi lebih luas:
“Zara Larsson? Yang artis pakai konsep summer vibran Y2K itu kan”
Asosiasi kedua jauh lebih powerful secara branding karena tidak bergantung pada satu produk atau satu lagu. Ia menciptakan mental image. Dan mental image merupakan aset yang sangat berharga dalam advertising.
Ketika seseorang melihat warna, fashion, pose, atau aesthetic tertentu lalu langsung menghubungkannya dengan seorang artis, brand tersebut telah mencapai tingkat keunikan yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Rebranding Zara Larsson menunjukkan bahwa membangun kembali sebuah brand bukan berarti menghapus identitas lama dan menggantinya dengan sesuatu yang sepenuhnya baru. Rebranding yang efektif justru bekerja dengan cara mengambil apa yang sudah dimiliki sebuah brand, menemukan kembali relevansinya, kemudian mengemasnya dengan cara yang lebih sesuai dengan perubahan budaya dan audiens.
Zara sudah memiliki sesuatu yang sangat berharga sejak awal: lagu-lagu hit, kemampuan vokal, dan pengalaman panjang di industri musik. Masalahnya bukan bahwa orang tidak mengenal musik Zara. Tantangannya adalah membuat orang mengingat Zara sebagai sebuah identity. Era Midnight Sun berhasil memperkuat hal tersebut dengan membangun sebuah visual universe yang jauh lebih unik.
Yang paling menarik, proses tersebut menunjukkan bahwa hype dan trend tidak selalu harus dianggap sebagai sesuatu yang sementara. Jika digunakan dengan tepat, sebuah tren dapat menjadi starting point untuk membangun brand equity.
Zara tidak menciptakan meme yang membuat Symphony kembali diperbincangkan. Namun ia mengenali attention yang muncul dari fenomena tersebut dan menemukan cara untuk menghubungkannya dengan dunia kreatif barunya. Bahkan Zara sendiri mengakui bahwa hubungan antara dolphin meme dan estetika Midnight Sun bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal; ia justru berkembang secara organik dari internet culture dan proses kreatifnya.
Pada akhirnya, inilah inti dari rebranding:
Brand yang kuat bukan hanya brand yang terlihat bagus. Brand yang kuat adalah brand yang mudah dikenali, memiliki cerita, relevan dengan budaya, dan mampu menciptakan asosiasi tertentu di dalam pikiran audiens.
Dalam kasus Zara Larsson, perubahan tersebut mengubah cara audiens melihatnya yang berawal dari sekadar suara di balik lagu-lagu pop menjadi sebuah character, aesthetic, lifestyle, dan cultural identity.
Pada akhirnya, rebranding bukan hanya tentang membuat sebuah brand terlihat lebih modern atau mengikuti tren terbaru. Rebranding adalah tentang memahami siapa target audiensnya, bagaimana mereka berperilaku, apa yang mereka anggap relevan, dan bagaimana sebuah brand dapat membangun koneksi yang lebih kuat dengan mereka. Jika brand Anda merasa identitas visual saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan audiens yang ingin dijangkau, mungkin sudah saatnya untuk melihat kembali bagaimana brand tersebut dapat berkembang.
Bersama Metamorphosys, kami membantu brand menemukan kembali potensinya melalui strategi dan desain yang relevan dengan target audiens—mulai dari membangun visual identity, menentukan creative direction, hingga menciptakan komunikasi visual yang lebih distinctive dan engaging. Saatnya bukan hanya membuat brand terlihat berbeda, tetapi membuatnya lebih berarti bagi orang yang ingin Anda jangkau.
Referensi:
Penulis: Angella Carles
0 Comments