Metamorphosys

Reaksi terhadap konsumsi berlebihan menyebar dengan cepat di media sosial. Apakah ini awal dari berakhirnya budaya konsumen kita yang merajalela dan merusak – atau hanya mempengaruhi banyak orang dengan nama lain di media sosial?
Baca Juga: Pro dan Kontra Media Sosial

Media sosial dan influencer berjalan beriringan; influencer menggunakan situs jejaring sosial seperti TikTok, Instagram, Twitter, dan Facebook untuk berbagi pembaruan, foto, dan video dengan pengikut mereka dan terhubung dengan penggemar. Mereka juga sering menggunakan platform tersebut untuk mempromosikan produk. Beberapa dari promosi produk ini terkait dengan merek tertentu. Dalam kasus ini, pemberi pengaruh terkadang didekati oleh merek dan secara khusus diminta untuk memposting foto atau video tentang produk yang dipilih dan mereka seringkali dibayar untuk melakukannya atau diberi imbalan dengan cara lain. Misalnya, terkadang barang tersebut dihadiahkan kepada mereka atau mereka diundang untuk menjadi sponsor brand. Tidak mengherankan, ulasan produk ini sering bersinar dan menyertakan dorongan bagi penggemar untuk pergi dan membeli barang itu sendiri.

Pernahkah kamu merasakan dorongan untuk membeli sesuatu setelah melihat seorang influencer memakainya? Tenang saja, kamu tidak sendirian. Kamu dan ribuan orang lainnya di luar sana merasakan hal yang sama. Seringkali kita tergiur dengan barang-barang yang belum tentu sebenarnya dibutuhkan. Alasannya sepele, hanya karena kita melihat video singkat 15 detik yang berisikan ulasan produk berdasarkan pengalaman pribadi influencer. Alhasil tanpa disadari kita tahu-tahu sudah terjebak ke dalam overconsumption. Jika kamu salah satu orang yang sering menjumpai video ulasan produk, mungkin kamu juga lazim menemukan ulasan yang kurang baik. Biasanya video tersebut berisi alasan kenapa kamu tidak harus membeli produk ini dan menyediakan opsi produk lain. Tahukah kamu bahwa itu bukan sekadar ulasan biasa, tetapi sebuah fenomena yang dinamakan deinfluencing? Seperti namanya, deinfluencing berarti lawan dari kata influence, berisi konten-konten yang memberi tahu apa yang tidak seharusnya kamu beli dan apa yang tidak berfungsi berlawanan dengan apa yang dikatakan para influencer.

Deinfluencing trend merupakan cara atau tindakan meyakinkan orang atau publik untuk tidak membeli sesuatu. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memerangi konsumerisme. Awalnya, istilah deinfluencing trend ini muncul di TikTok. Dilansir dari Today.com, Kahlea Nicole Wade, seorang brand collaboration coach dan content creator mengatakan bahwa deinfluencing trend merupakan tren yang menarik. Di satu sisi, influencer memberi tahu orang lain agar tidak membeli suatu produk, namun di sisi lain itu menunjukkan kurangnya kredibilitas influencer dalam tren-tren sebelumnya. Namun, alih-alih mendapat hujatan, deinfluencing trend justru dipuji karena mendorong seseorang untuk berpikir sebelum membeli suatu produk yang sedang viral. Publik diajak untuk berpikir bahwa tidak semua tren harus diikuti, terlebih yang berkaitan dengan lifestyle.

Media sosial sekarang adalah pasar dan pusat perbelanjaan dulu – tempat orang menghabiskan uang mereka dan penuh dengan “barang yang harus dimiliki” seperti penjepit bulu mata yang dipanaskan dan pasta pembersih merah muda “ajaib”. Dan ketika sesuatu menjadi viral online, itu laku di kehidupan nyata. Dalam penelitian terbaru , 54% orang mengatakan bahwa mereka melakukan pembelian saat itu juga atau setelah melihat produk atau layanan di Instagram. Menurut laporan lain, 55% pengguna TikTok melakukan pembelian setelah melihat merek atau produk di platform tersebut. Di Twitter, angka itu adalah 40%.

Influencer di media sosial kebanyakan siap sedia mempromosikan produk tanpa pandang bulu demi mengisi kantong mereka. Maka dari itu, kredibilitas mereka patut dipertanyakan lantaran kerap influencer tertangkap basah memalsukan endorsement mereka, contohnya saja Millie Bobby Brown dan Kylie Jenner. Keduanya meng-endorse produk skincare, tetapi faktanya mereka tidak benar-benar memakai skincare yang dipromosikan. Video deinfluencing biasanya berisi ulasan konsumen yang kecewa, beauty guru yang berwawasan, dokter kecantikan yang mengedukasi agar tidak terjebak mitos, hingga mantan karyawan ritel yang membeberkan produk mana yang paling sering dikembalikan oleh pelanggan. Para deinfluencer mengklaim mereka autentik, lantaran jujur apa adanya dan mengungkap omong kosong yang berbanding terbalik dari realitanya. Istilah deinfluencing diketahui berawal dari seorang beauty influencer yang pernah bekerja di Sephora dan Ulta bernama Maddie Wells. Ia mengunggah videonya di Tiktok pada 2020 dan memberi tahu para pengikutnya tentang produk yang paling banyak dikembalikan pelanggan saat ia dulu bekerja di ritel kencantikan. Dalam unggahannya ia menyarankan mereka untuk tidak mengikuti hype lantaran produk-produk yang dikembalikan tidak benar-benar memberikan efek layaknya klaim produk.

Meski deinfluencing terdengar meyakinkan dengan embel-embel autentiknya, nyatanya ini tidak sejujur apa yang diklaim. Menurut The Wall Street Journal, beberapa influencer memberi tahu Rolling Stone bahwa deinfluencing adalah salah satu gaya endorsement baru. Salah satu influencer bernama Isaias Hernandez mengatakan, bahwa deinfluencing hanyalah gaya baru untuk mengemas suatu produk agar berkesan lebih ramah lingkungan. Hal ini benar adanya. Mengutip majalah TIME, deinfluencing yang seharusnya dapat mengurangi konsumsi belanja berlebihan justru tidak mengubah apapun. Video deinfluence tidak cukup untuk mengubah kebiasaan overconsumption lantaran dalam video tersebut pasti para creator akan menyarankan pembelian kosmetik atau barang yang mirip yang menyebabkan penonton berakhir membeli produk lain. Sejauh ini para deinfluencer masih terpantau tidak membuat video atas dasar bayaran dengan menyarankan produk lain. Namun, seberapa jauh sebelum brand-brand menyadari taktik pemasaran baru ini dan membayar orang untuk mendiskreditkan produk pesaing?

Deinfluencing berdampak bagi brand dan perusahaan

Dalam bisnis saat ini, brand saling berlomba mencari influencer yang menurut mereka memiliki pengikut cukup banyak dan dikenal oleh publik. Brand tersebut berharap agar influencer mampu mempromosikan produk mereka sehingga minat beli konsumen dapat meningkat. Dilansir dari Today.com, 95% merek dagang kini berlomba menggandeng influencer media sosial untuk mempromosikan produk mereka. Hal tersebut menunjukkan perubahan marketing model merek dagang sesuai laju pertumbuhan media sosial hari ini. Efektivitas influencer dalam pemasaran terutama terlihat dalam pola konsumsi Generasi Z. Marketing Dive menyebutkan bahwa 44% Gen Z membeli sesuatu berdasarkan rekomendasi dari influencer, sedangkan secara general signifikansi influencer dalam pola konsumsi hanya mencapai 26%. Artinya, disadari atau tidak, influencer kini memiliki peran yang besar untuk menciptakan atau mendukung suatu tren, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan industri. Tugas influencer sebenarnya memberikan review yang dapat dipercaya oleh pengikutnya melalui sebuah konten. Ia akan menampilkan konten dengan cara dan ciri khasnya tersendiri dan sebisa mungkin tidak menghilangkan karakter asli dari sang influencer. Dengan demikian, influencer ini dapat melakukan pendekatan kepada audiens untuk mempromosikan sesuatu, baik disadari maupun tidak. Apabila influencer memberikan review buruk kepada suatu brand, maka pengikutnya pun bisa jadi terpengaruh influencer dan mengurungkan niat untuk membeli produk dari brand tersebut. Hal inilah yang bisa menurunkan penjualan suatu brand. Yang lebih buruk lagi, brand tersebut bisa diboikot oleh publik.

Deinfluencing bukan berarti memberhentikan tren yang ada

Deinfluencing bukan semata-mata mengajak seseorang untuk tidak mengikuti tren tertentu. Justru di sini publik diajak untuk berpikir tren mana yang akan mereka ikuti maupun tidak. Poin utama deinfluencing sebenarnya mengajak publik agar tidak terus-terusan hidup dalam budaya konsumerisme. Konsep deinfluencing mengajarkan kepada publik untuk membeli barang yang benar-benar dibutuhkan atau diinginkan, namun publik tidak boleh merasa terdorong untuk mengonsumsinya secara berlebihan hanya karena promosi dari influencer.

Berikut beberapa cara yang bisa kamu terapkan sebelum mengikuti tren:

  • Jangan mengikuti tren karena ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Ikuti tren karena memang kamu menginginkannya.
  • Jangan menghabiskan uang untuk mengikuti tren yang tidak berdampak bagi dirimu.
  • Menimbang untung dan ruginya mengikuti tren tersebut.

Apabila kamu membutuhkan bantuan dalam membuat strategi influencer yang tepat di media sosial atau digital marketing brand kamu, kami Metamorphosys siap membantu. Kami adalah Creative & Digital Marketing Agency yang berlokasi di Gading Serpong, Tangerang. Kami memiliki tim profesional yang berpengalaman selama bertahun-tahun dalam membantu klien kami mencapai tujuan bisnisnya mulai dari mendesain logo dan branding, manajemen media sosial, periklanan,  membuat website, jasa fotografi serta videografi, dan sebagainya. Jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan tim kami dengan klik button ‘Start Project’ di www.metamorphosys.co.id dan mari kita berkolaborasi membangun bisnis Anda!

Penyunting: Ryan S

Sumber:


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − 12 =